Lampu merah tanda kendaraan stop menyala di perempatan Jl Kebon Sirih dan Jl Agus Salim, Jakarta pusat. Seorang turis asing langsung lari bergegas menyeberangi jalan. Ia tak bawa apa-apa, hanya menenteng map. Rambutnya pirang. Sekilas rupanya mirip bos microsoft, Bill Gates.
Kalo dari raut muka, saya perkirakan bule ini turis asal Australia yang nginap tak jauh dari perempatan ini, di Jl Jaksa. Banyak bule yang nginap di wilayah ini adalah bacpacker asal negeri kanguru itu.
Si bule terlihat tergopoh melewati zebra crozz. Sepertinya usianya sudah 40-an tahun. Sayangnya Lampu merah yang menyala bukan berarti ia menyeberang 'tanpa rintangan' di garis putih itu. Ia terhalang sejumlah motor yang seenaknya berhenti persis di atas zebra crozz, bahkan banyak pula telah melewati garis penyeberangan.
Saya mencoba menduga, bule ini bergegas mungkin karena sudah tahu tabiat pengendara motor di Jakarta. Sebenarnya dia bisa saja berjalan lebih tenang, karena angka yang tertera di dekat lampu merah masih 52 detik. Tapi ia sadar, ini Jakarta!
Jika tak bergegas, motor dari belakang akan kian merangsek ke depan, dan menutup garis penyeberangan. Bahkan jika lambat, ia bisa saja di klakson tiada henti.
Kebiasaan seperti ini adalah satu dari ratusan pelanggaran yang kerap dilakukan pemotor di Jakarta. Satu dari ribuan pelanggaran pengendara di jalanan. Satu dari jutaan kesemrawutan transportasi kita. Satu dari milyaran dan trilyunan ketidakberesan di negeri ini. *pagi-pagi sudah ngeluh :D
Kamis, 10 November 2011
Rabu, 09 November 2011
Satu Nyawa Satu Berita
Rabu, 09/11/2011 10:50 WIB
Gelandangan Tewas di Sekitar Perlintasan Kereta Percetakan Negara
Jakarta - Seorang gelandangan ditemukan tewas di sekitar perlintasan kereta Jl Percetakan Negara I, Johar Baru, Jakarta Pusat. Pria ini tewas tidak jauh dari pos penjagaan perlintasan kereta di lokasi itu.
Mayat ini ditemukan tukang ojek yang biasa mangkal di lokasi itu pada Rabu (9/11/2011) pukul 07.00 WIB. Mayat pria ini mengenakan kaos abu-abu dan celana pendek warga biru. Ia juga membawa bungkusan. Diperkirakan pria tersebut berusia 20-an tahun.
"Sepertinya dia gelandangan dan baru 4 hari terlihat sekitar sini," kata Yudi, tukang ojek yang melihat kondisi mayat tersebut.
Di Jakarta, kematian-kematian seperti ini sudah rutin. Melengkapi berita kematian lain yang beragam. Kecelakaan, atau pembunuhan yang penuh drama dan punya kisah panjang sebelum ajalnya datang.
Gelandangan, pengemis, pria tua, dll yang malang. Mereka mati dalam sepi, tak ada sanak keluarga. Sakit atau mungkin kelaparan akut, lalu tergeletak di tanah yang ia pijak saat itu. Kematian hanya melengkapi takdirnya, bahwa hidup pasti ada endingnya. Tak ada orang yang menyesali, tak ada keluarga yang mempertanyakan. Bahkan tak ada yang mengenalnya, mungkin tak ada yang mau. Berakhir begitu saja.
Suatu waktu saya berbincang dengan kawan yang kerap menulis berita kriminal mengenai berita kematian seperti ini. Kami -meski saya yang mengusulkan- menyebutnya 'satu nyawa satu berita'. Kematian yang diberitakan hanya satu kali.
Di media online, berita seputar penemuan mayat di Jakarta punya pembaca yang banyak. Apalagi jika kasus itu punya potensi menjadi sebuah drama, pasti diberitakan lebih dari satu kali. Seperti kisah Hartati, perempuan usia setengah baya yang ditemukan tewas di Jl Kurnia, Gang D, Jakarta Timur pada pertengahan Oktober lalu . Oleh pembunuhnya, ia dimasukkan dalam kardus TV. Besoknya, di sudut Jakarta yang lain, juga ditemukan mayat bocah di dalam koper.
2 Kasus ini diselidiki oleh Polsek yang berbeda. Semula diangap kasus yang berdiri sendiri. Beberapa minggu kemudian, mulai terkuak identitas keduanya.Ternyata mereka adalah ibu dan anak. Dibunuh dengan sadis oleh Rahmat, pacar Hartati. Fakta terendus, dan cerita mengalir. Tentang Hartati yang janda, tentang Rahmat yang punya pacar lain, dan hal-hal rumit lainnya hingga pembunuhan terjadi.
Kasus-kasus seperti Hartati, oleh media online, pasti dikemas seakan pembaca menonton film detektif. Kita akan diajak menelusuk kasusnya pelan-pelan. Tahap demi tahap. Pembaca, reporter dan penulisnya bahkan tidak akan tahu seperti apa endingnya.
Rentetan fakta-fakta baru hasil temuan polisi disajikan terus-menerus. Reporter dituntut gencar memburu informasi terkini. Mewawancarai semua pihak yang terkait. 'Drama' Hartati disuguhkan dengan puluhan berita lanjutan hingga kasusnya terungkap.
Berita kriminal seperti ini memang kerap ditempatkan di 'kasta tinggi'. Lalu soal gelandangan ini, yang tidak ada mengenalnya, dan mungkin tak akan mau, hanya sisipan di tengah berita-berita pembunuhan yang dikemas seru. Setelah sekali diberitakan, tak ada lagi yang ingin mengikuti kelanjutannya. Dan memang tak ada lagi kelanjutannya. Kematian biasa, dan dramanya hanya pada si empunya hidup.
Hidupnya berakhir, berita hanya satu dan terakhir. Pada kasus seperti ini, gelandangan yang mati di rel kereta, atau pengemis yang meninggal kelelahan di taman kota, dan kematian-kematian lain yang 'tak punya drama', maka berlaku idiom ini; Satu nyawa satu berita.
Gelandangan Tewas di Sekitar Perlintasan Kereta Percetakan Negara
Jakarta - Seorang gelandangan ditemukan tewas di sekitar perlintasan kereta Jl Percetakan Negara I, Johar Baru, Jakarta Pusat. Pria ini tewas tidak jauh dari pos penjagaan perlintasan kereta di lokasi itu.
Mayat ini ditemukan tukang ojek yang biasa mangkal di lokasi itu pada Rabu (9/11/2011) pukul 07.00 WIB. Mayat pria ini mengenakan kaos abu-abu dan celana pendek warga biru. Ia juga membawa bungkusan. Diperkirakan pria tersebut berusia 20-an tahun.
"Sepertinya dia gelandangan dan baru 4 hari terlihat sekitar sini," kata Yudi, tukang ojek yang melihat kondisi mayat tersebut.
Di Jakarta, kematian-kematian seperti ini sudah rutin. Melengkapi berita kematian lain yang beragam. Kecelakaan, atau pembunuhan yang penuh drama dan punya kisah panjang sebelum ajalnya datang.
Gelandangan, pengemis, pria tua, dll yang malang. Mereka mati dalam sepi, tak ada sanak keluarga. Sakit atau mungkin kelaparan akut, lalu tergeletak di tanah yang ia pijak saat itu. Kematian hanya melengkapi takdirnya, bahwa hidup pasti ada endingnya. Tak ada orang yang menyesali, tak ada keluarga yang mempertanyakan. Bahkan tak ada yang mengenalnya, mungkin tak ada yang mau. Berakhir begitu saja.
Suatu waktu saya berbincang dengan kawan yang kerap menulis berita kriminal mengenai berita kematian seperti ini. Kami -meski saya yang mengusulkan- menyebutnya 'satu nyawa satu berita'. Kematian yang diberitakan hanya satu kali.
Di media online, berita seputar penemuan mayat di Jakarta punya pembaca yang banyak. Apalagi jika kasus itu punya potensi menjadi sebuah drama, pasti diberitakan lebih dari satu kali. Seperti kisah Hartati, perempuan usia setengah baya yang ditemukan tewas di Jl Kurnia, Gang D, Jakarta Timur pada pertengahan Oktober lalu . Oleh pembunuhnya, ia dimasukkan dalam kardus TV. Besoknya, di sudut Jakarta yang lain, juga ditemukan mayat bocah di dalam koper.
2 Kasus ini diselidiki oleh Polsek yang berbeda. Semula diangap kasus yang berdiri sendiri. Beberapa minggu kemudian, mulai terkuak identitas keduanya.Ternyata mereka adalah ibu dan anak. Dibunuh dengan sadis oleh Rahmat, pacar Hartati. Fakta terendus, dan cerita mengalir. Tentang Hartati yang janda, tentang Rahmat yang punya pacar lain, dan hal-hal rumit lainnya hingga pembunuhan terjadi.
Kasus-kasus seperti Hartati, oleh media online, pasti dikemas seakan pembaca menonton film detektif. Kita akan diajak menelusuk kasusnya pelan-pelan. Tahap demi tahap. Pembaca, reporter dan penulisnya bahkan tidak akan tahu seperti apa endingnya.
Rentetan fakta-fakta baru hasil temuan polisi disajikan terus-menerus. Reporter dituntut gencar memburu informasi terkini. Mewawancarai semua pihak yang terkait. 'Drama' Hartati disuguhkan dengan puluhan berita lanjutan hingga kasusnya terungkap.
Berita kriminal seperti ini memang kerap ditempatkan di 'kasta tinggi'. Lalu soal gelandangan ini, yang tidak ada mengenalnya, dan mungkin tak akan mau, hanya sisipan di tengah berita-berita pembunuhan yang dikemas seru. Setelah sekali diberitakan, tak ada lagi yang ingin mengikuti kelanjutannya. Dan memang tak ada lagi kelanjutannya. Kematian biasa, dan dramanya hanya pada si empunya hidup.
Hidupnya berakhir, berita hanya satu dan terakhir. Pada kasus seperti ini, gelandangan yang mati di rel kereta, atau pengemis yang meninggal kelelahan di taman kota, dan kematian-kematian lain yang 'tak punya drama', maka berlaku idiom ini; Satu nyawa satu berita.
Langganan:
Komentar (Atom)
